제 1 장
(chapter 1)
현실—the fact
“gomenasai.
Maafkan aku...” Yong-Hwa pelan, kemudian mengangkat wajahnya dengan
perlahan dan sedikit terkejut ketika mendapati Ni-Ran sedang tersenyum
didepannya.
Ni-Ran ingin menangis dain berteriak.
Ia ingin melakukan segala hal yang terburuk yang bisa dipikirkannya. Tapi ia
tahu, bahwa ia tidak mampu melakukannya. Ia tidak bisa melakukan hal seperti
itu. Jika ia melakukan seperti itu, maka itu sama saja Ni-Ran akan melihat
wajah Yong-Hwa yang menderita. Padahal dirinya lah yang paling ingin melihat
Yong-Hwa bahagia. Ni-Ran menggigit bibirnya, sangat heran bibir itu belum
berdarah karena gigitannya yang kuat.
“tersenyumlah
Ni-Ran..! ayo tersenyumlah...!!” batin Ni-Ran dengan putus asa.
Entah berasal dari mana senyuman
itu, Ni-Ran berhasil membentuk bibirnya menjadi senyuman.
“iie.
Tidak. Itu bukan salah nii-san..ini
sama sekali bukan salahmu...” ucap Ni-Ran dengan penuh semangat, dan beberapa
detik kemudian senyum itu luntur.
“hontou
ni gomenasai... “
Ni-Ran menggeleng kepalanya dengan
cepat, entah apa yang harus dilakukannya. Ia sungguh menyesal menyatakan
perasaannya pada Yong-Hwa. Sungguh sangat menyesal. Jika ia tahu akan melihat
wajah Yong-Hwa yang begitu tanpa ekspresi, ia tidak akan pernah menyatakan perasaannya.
Tidak akan pernah!
“iie.. ini bukan salah, nii-san..
ini bukan salah siapa-siapa..” ucap Ni-Ran sambil berusaha tersenyum, kemudian
melanjutkan dengan pelan,”nii-chan.. aku punya permintaan...”
Yong-Hwa menatap wajah Ni-Ran yang
masih berusaha tersenyum, dan menjawab,” Ya?”
“.. ano, berjanjilah padaku satu hal...”
“ye?”
Ni-Ran
menahan air matanya yang mulai memaksa keluar dari matanya, membuat nadanya
sedikit getar,”berbahagialah...Nii-chan, kau harus bahagia dengan Eun-Soo.. kau
harus..” Ni-Ran tahu, ia tidak akan mampu melanjutkan ucapannya. Ia tidak bisa
mengatakan ‘kau harus berbahagia dengan orang yang kau cintai..’
Yong-Hwa tahu, ia tahu dan menyadari
betapa punggung Ni-Ran telah bergetar. Tapi apa yang bisa dilakukannya. Inilah
selalu diharapkannya. Pembalasan!
“kau tidak perlu mencemaskan
aku..setelah aku mendapatkan Eun-Soo kembali, aku akan dengan segera menghilang
dari pandanganmu. Aku harap, dan sangat berharap dan seandainya Tuhan
mengijinkan.. aku berharap tidak lagi bertemu denganmu atau berkeliaran
didepanmu lagi, Ni-ran..”
Ni-Ran mengangkat kepalanya yang
sempat tertunduk, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya,”Nii-chan...”
“gomene..
Seandainya dari awal aku tidak bertemu denganmu, semua ini tidak akan terjadi.
Tapi sesungguhnya aku tidak terlalu menyesal.. bagaimanapun, aku memang
mendekatimu untuk mendapatkan kembali Eun-Soo, tapi aku sungguh-sungguh tidak
berpikir untuk menyakitimu..” ucap Yong-Hwa pelan. Entah mengapa Yong-Hwa
merasa sedikit dari hatinya merasa sangat menyesal telah berkata seperti itu.
“uso..
Bohong..! Nii-chan, aku tahu kau sedang berbohong bukan? Pasti Nii-chan
mengira aku sedang bersedih karena penolakanmu...Nii, aku sungguh-sungguh tidak
sedih. Jadi...”
“lagipula..” lanjut Yong-Hwa memotong
pembicaraan Ni-ran,”dari awal, tidak seharusnya kau semudah itu terjerat oleh
laki-laki seperti aku..”
“Nii-chan...”
“sayangnya.. inilah aku yang
sebenarnya, bukan Yong-Hwa yang baik hati tapi inilah aku..”
Ya, kini Yong-Hwa sungguh-sungguh
merasa menyesal telah mengatakan hal sejahat itu pada Ni-Ran. Setelah ia
menyakiti hati gadis itu, sekarang ia menghancurkan hati gadis itu lagi. Sekali
lagi..
Ni-Ran menatap Yong-Hwa dengan
tatapan tidak percaya, dan mendekati Yong-Hwa,”Nii-chan... jangan begini...”
Namun, Yong-hwa telah menepis tangan
Ni-Ran dan mulai beranjak meninggalkannya, namun sebelum itu yong-Hwa
membisikkan kata-kata terakhir untuk Ni-Ran. Satu kalimat yang membawa Ni-Ran
kedalam jurang keputus asaan.
“seandainya kau tidak mudah takluk
padaku, aku rasa tidak ada salahnya kita memainkan peran sebagai sepasang
kekasih lebih lama lagi..”
Kemudian Yong-Hwa meninggalkan
Ni-Ran sendirian di Omiya Park. Seorang diri..
*********************
Yong-Hwa berjalan dengan cepat
seakan tidak melihat arah. Seakan pikiran dan matanya sedang melayang entah
kemana. Apa sebenarnya yang sedang ia lakukan? Apa yang sebenarnya telah ia
lakukan barusan?
Ini tidak benar.
Segalanya tidak benar. Ia memang
membenci Eun-Soo karena menghianatinya. Tapi bukan berarti ia dapat membalaskan
dendam dan sakit hatinya kepada Ni-Ran yang tidak tahu apapun tentang mereka.
Ni-ran hanya adik tiri Eun-Soo, dan mengapa ia melakukan hal itu..!
Yong-Hwa tidak mengira segalanya
berlangsung dengan begitu baik dan mulusnya. Ia sangat tidak mengira bahwa ini
semua akan berjalan dengan begitu baiknya. “..apa yang sebenarnya telah
kulakukan...”
Seakan tidak mampu lagi menopang
kedua kakinya, Yong-Hwa berlutut dijalan. Kepalanya terasa berdengung-dengung
tidak berhenti. Entah mengapa hatinya seakan menjerit. Sejak kapan Ni-Ran
menjadi begitu berharga baginya? Sejak kapan ia menjadi begitu mengkhawatirkan
Ni-Ran?
Yong-Hwa tahu jawabannya dengan
jelas, tanpa harus mengatakannya kembali. Ia selalu berharap Ni-Ran adalah
Eun-Soo, ia juga selalu berharap seandainya yang menghianatinya adalah Ni-Ran
dan bukan Eun-Soo mungkin ia tidak akan berubah menjadi seperti ini. Yong-Hwa
menyentuh pipinya, air hangat mulai membasahi pipinya.
Air mata...
Sejak kapan ia dapat menangis?
Bukankah seharusnya air matanya telah kering sejak Eun-Soo menghianatinya? Dan
mengapa air mata sialan ini malah kembali?
“hei..
kau siapa? Kenapa berada disini?” tanya Ni-Ran sambil tersenyum ceria.
Hari itu, Yong-Hwa berada di depan rumah Ni-Ran setelah
mendapatkan kenyataan bahwa Eun-Soo menghianatinya. Meninggalkannya seperti
sampah. “kau siapa?”
“aku? Aku Ni-Ran.. apakah kau habis bertemu dengan nee-san?”
“nee-san?”
“iya... eun-Soo nee-san apa kau kekasihnya?” tanya Ni-Ran
tanpa sadar 1 kata yang dilontarkannya telah membuat wajah Yong-hwa dalam
sekejap menjadi berubah.
Sejak hari itu, Yong-Hwa telah memutuskan, ia akan
mendekati ni-Ran sebagai balasan terhadap perbuatan Eun-Soo. Tidak peduli
apapun yang akan terjadi, hari itu.. Yong-Hwa telah memutuskan. Pembalasan dendam
akan dimulai...
Yong-Hwa menghela nafas panjang, ia
tahu dengan mengenang hari itu.. hari dimana ia telah memutuskan akan melakukan
perbuatan ini..ia akan menyesali perbuatan itu seumur hidupnya. Waktu itu, ia
terlalu marah sehingga memutuskan menyakiti gadis yang bahkan memberikan
seluruh cintanya pada dirinya. Memberikan seluruh hatinya kepada Yong-Hwa.
Cinta yang selalu diinginkan Yong-Hwa.. dan kini ia merusaknya..
“too-san.
Ayah.. hari ini, aku menyakiti gadis yang telah masuk kedalam hatiku. Gadis
polos yang memasuki hatiku yang sudah rusak ini..Too-san, apakah sebenarnya
yang telah kulakukan...”
*******************
Malam itu, salju turun dengan
derasnya.. seperti butiran kristal yang jatuh ke bumi. Ni-Ran menatap salju itu
dengan hati hampa. Apa yang sebenarnya baru saja terjadi? Apa yang baru saja ia
dengar? Apa yang baru saja terjadi pada dirinya?
Ya, ia ingat.. ia menyatakan
cintanya pada Yong-Hwa..lalu, apa?
Seberkas ingatan menyedihkan
terulang lagi dibenaknya, seperti film yang diputar. Ni-Ran tidak menangis.
Mengapa?
Bahkan dirinya sendiri pun tidak
tahu...
Apa yang sebenarnya diinginkannya?
Tidak.. ia juga tidak tahu.. ia hanya menginginkan Yong-Hwa. Apa yang
sebenarnya terjadi di dunia ini? Mengapa dalam sekejap orang yang dikenal dan
dicintainya berubah menjadi laki-laki asing yang sama sekali tidak dikenalnya?
Rasa dingin yang mulai merasuki
tulang Ni-Ran. Namun tak satupun rasa dingin itu mampu menempus hampa yang
dirasakannya. Seakan rasa hampa itu telah menyerap rasa dingin yang masih di
rasakannya. Ni-ran bahkan tidak mampu bergerak dari taman itu. Apakah Yong-Hwa
akan mencarinya? Apakah Yong-Hwa akan mengatakan bahwa yang dikatakannya adalah
bohong?
Ni-Ran tahu apa yang dikatakan
Yong-Hwa semuanya benar. Matanya menjawab segalanya..
“...apa yang sebenarnya baru saja
terjadi...” gumamnya sambil menutup mata seakan tidak kuasa menahan kantuk yang
menderanya.
Sedetik kemudian, Ni-Ran terjatuh
dari kursi taman ke tanah yang mulai dipenuhi putihnya salju. Kemudian, Ni-Ran
hanya mampu berdoa seandainya putih dan dinginnya salju mampu mencairkan
dirinya bersama dengan hatinya yang tidak mampu dirasakannya lagi...
*********************
“ I smile again like I
did yesterday
I hide it as if nothing happened
Without permission, I looked into your heart
I guess it’s my part to take your heart
Now I want to have you
I hide it as if nothing happened
Without permission, I looked into your heart
I guess it’s my part to take your heart
Now I want to have you
Have
you ever loved to death?
Just once, just once, please look back
I cry out and call you but it doesn’t reach you
I love you, I love you
Words I repeat by myself
I love you
Just once, just once, please look back
I cry out and call you but it doesn’t reach you
I love you, I love you
Words I repeat by myself
I love you
I
try to live each day well
So that I can endure through little by little
Because without you, there is no tomorrow
There is no hope, just like today
Now I want you
So that I can endure through little by little
Because without you, there is no tomorrow
There is no hope, just like today
Now I want you
The
sad longing builds up
It feels like my breath will stop
I follow the faint light
And now I go to you
It feels like my breath will stop
I follow the faint light
And now I go to you
Love
comes like snowflakes
I hold out my hand to catch it but it always melts
From the moment I first saw you, it was always you
I take one step and again another step
Because to me, it needs to be only you “
I hold out my hand to catch it but it always melts
From the moment I first saw you, it was always you
I take one step and again another step
Because to me, it needs to be only you “
~Love is like a snowflake-Junsu~
**********************************
Eun-Soo berjalan mengitari ruang
tamu dengan perasaan yang berdebar kencang. Perasaan apa ini sebenarnya,
Eun-Soo sungguh merasa sangat terganggu dengan perasaan ini. Salju di luar
mulai berlalu seperti badai, tidak ada yang tahu kapan badai itu akan datang
dan kapan akan berhenti. Namun, angin kencang mulai menerpa kaca-kaca jendela
dan menimbulkan bunyi yang sangat tidak menyenangkan untuk didengar.
“apakah Ni-Ran belum pulang?”
Eun-Soo segera memutar tubuhnya saat mendengar pertanyaan
seperti itu, kemudian menjawab dengan lembut,” belum.... bahkan Ni-Ran belum
memberi kabar sama sekali..”
Ji-Hoon menatap Eun-Soo dengan
dingin. Mungkin bagi yang mengenal Ji-Hoon akan sulit mempercayainya. Ji-Hoon
yang terkenal dengan keramahan dan kebaikannya kini bahkan tidak satupun tampak
senyuman yang biasanya mengembang di bibirnya. Tatapan Ji-Hoon penuh dengan
kemarahan dan kebencian.
“wanita
sialan ini, apakah sedang merencanakan sesuatu?”
Seakan bisa membaca pikiran Ji-Hoon,
Eun-Soo terkekeh dengan perlahan,”kalau kau berpikir apakah Ni-Ran belum pulang
karena aku, lebih baik kukatakan padamu untuk segera melenyapkan pemikiran
itu.. karena kejadian hari ini bukanlah kesalahanku...”
Ji-Hoon terdiam sesaat ketika
mendengar penuturan dari Eun-Soo kemudian tertawa sinis dengan kencang.
“apa yang sedang kau tertawakan, Joo
Ji-Hoon?!”
“iie...
tidak. Aku hanya sedang berpikir, apakah segala sesuatu yang terjadi disekitar
kami benar-benar tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu?”
“apa maksud perkataanmu itu??” tanya
Eun-Soo dengan marah. Betapa kasarnya ucapan Ji-Hoon, ia sungguh-sungguh tidak
terlibat dengan masalah Ni-Ran—setidaknya masalah yang ini.
Ji-Hoon segera memutari sofa diruang
tengah dan memasukkan kedua tangannya disaku celananya,”aku rasa aku tidak
perlu menegaskan ucapanku yang barusan... kaulah yang paling mengetahui makna
yang tersirat dari kata-kataku barusan...”
“sudah kubilang, aku tidak ada
sangkut pautnya dengan ketidakpulangan Ni-Ran hari ini...!!!”
“makanya, sudah kukatakan juga
padamu barusan.. sejak kapan segala permasalahan yang timbul di sekitar kami
tidak melibatkanmu? Kau begitu cerdas dalam menempatkan dirimu, bahkan terlalu
cerdas sehingga iblispun merasa kalah denganmu...” sindir Ji-Hoon dengan dingin
dan tanpa ampun.
Dalam hatinya seakan menolak untuk
mengatakan hal itu, namun dilain pihak ia sangat marah dengan tingkah laku
Eun-Soo. ia pernah tertipu sekali oleh wanita ini, dan Ji-Hoon telah bersumpah
tidak akan pernah memaafkan atau memberikan wanita ini—Lee Eun Soo—kesempatan
sekalipun. Tidak akan pernah.
Kemudian Ji-Hoon segera melangkah
keluar dari ruang tengah itu. Meninggalkan Eun-Soo yang hanya menggemertakkan
giginya dan meremas kedua tangannya di belakang punggungnya.
“kurang
ajar kau, Joo Ji Hoon..! beraninya kau menghinaku seperti itu....”
Eun-Soo hanya menatap kepergiaan
Ji-Hoon dengan kesal dan sedikit sedih. Entah kapan, laki-laki yang sempat
mencintainya itu sekarang berubah menjadi orang asing bagi dirinya, dan bahkan
ingin menghancurkan dirinya.
“..
pasti ada sesuatu dibalik semua ini.. alasan mengapa Ji-Hoon menjadi begitu
membenciku, tapi apa...?”
Kerutan alis yang dalam menandakan
dirinya sedang berpikir dengan sangat keras, namun seperti biasanya, tidak ada
hasil yang bisa didapatkannya selain sakit kepala yang semakin menghantui
dirinya. Eun-Soo berniat menunggu Ni-Ran hingga kembali, kali ini ia berencana
akan memarahi Ni-Ran karena membuatnya berada diposisi yang tidak menguntungkan
seperti ini.. Tapi sebelum niat itu terlaksana, ponselnya mulai berdering dan
Eun-Soo segera mengangkatnya dengan cepat.
“ye?”
“Eun-Soo?”
tanya laki-laki disebrang telepon.
Eun-Soo menghela nafas dengan cepat,”ye.. ini Eun-Soo.
ada apa Soo-Hyun?”
“bagaimana kabarmu disana? Apakah ji-Hoon memperlakukanmu
dengan sangat kurang ajar?” ucap Soo Hyun. Lalu tak lama terdengar suara gelak
tawa yang keluar dari mulut Soo Hyun.
Eun-Soo mendesah kesal dan mengganti gagang ponselnya
dari sebelah kanan menjadi sebelah kiri,”untuk apa kau mau tahu? Itu bukan
urusanmu..”
“tentu saja itu menjadi urusanku Eun-Soo, selama ini
menyangkut dirimu. Dan jangan lupa, kita adalah partner dalam segalanya, termasuk dalam merusak seseorang..”
“sedang dimana kau? Mengapa berisik sekali?” tanya
Eun-Soo sengaja merubah arah pembicaraan yang tidak diinginkannya.
Soo-Hyun tersenyum,”aku ingin memberimu kabar
bagus..sepertinya ji-Hoon mengetahui dengan jelas apa maksud terselubungmu. Ah,
gomen. Maaf, seharusnya kukatakan
maksud terselubung kita..”
“apa maksud perkataanmu?”
“apa ya maksudku.. apa kau belum mengerti?”
“Kim Soo Hyun!!!” teriak Eun-Soo dengan nada kencang
seperti biasa, ketika ia merasa tidak dapat bersabar lebih jauh.
Soo-Hyun segera menjawab dengan cepat,”iya.. iya.. kau
tidak perlu berteriak seperti itu apalagi memanggil nama lengkapku...” kemudian
melanjutkan,”pengacara Min-Hyuk sepertinya mengetahui sesuatu tentang kita..”
“apa? Apa katamu?”
“untuk lebih jelasnya, datanglah ke apartemenku seperti
biasa... dan kali ini, lebih waspadalah Eun-Soo karena musuh kita adalah orang
yang mempunyai reputasi besar di saitama..”
Sebelum sempat mengatakan apapun, Soo-Hyun telah
menghentikan pembicaraan mereka dengan menutup teleponnya. Eun-soo menatap
ponselnya dengan bingung dan khawatir.
Apa yang sebenarnya
terjadi? Apa ini ada hubungannya dengan perubahan Ji-Hoon yang drastis..?
Eun-Soo tahu, ia tidak dapat menerka-nerka. Ia butuh
informasi itu sekarang juga. Dengan cepat ia berlari ke kamarnya yang tidak
jauh dari ruang tengah, untuk mengambil jaketnya dan segera berlari keruang
tamu, membuka laci dan mengambil kunci mobil secara acak. Beberapa menit
kemudian, Eun-Soo telah mengendarai kendaraannya seperti orang gila hanya untuk
menemui laki-laki yang sama brengseknya dengan dirinya..
Cast Man :
Name : Jung Yong Hwa as Jung Yong Hwa
Name : Kang Min Hyuk as Kang Min Hyuk
Name : Lee Ji Hoon as Lee Ji Hoon
Name : Kim Soo Hyun as Kim Soo Hyun
Cast Girl :
Name : Jessica Zakuwan as Shin Jin Ji
Name : Melie Arioka as Kim Sung Young
Name : Yaotome Ai as Lee Eun Soo










0 komentar:
Posting Komentar